Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh. "Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.
QS. Ali Imran (3) : 156
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu) ". Mereka berkata:" Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu ". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
QS. Ali Imran (3) : 167
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.
QS. Ali Imran (3) : 179
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.
QS. an-Nisa' (4) : 61
Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna".
QS. an-Nisa' (4) : 62
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
QS. an-Nisa' (4) : 77
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: " Ini adalah dari sisi Allah ", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: " Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad) ". Katakanlah:" Semuanya (datang) dari sisi Allah ". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
QS. an-Nisa' (4) : 78
Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: " (Kewajiban kami hanyalah) taat ". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.
QS. an-Nisa' (4) : 81
Maka mengapa kamu menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.
QS. an-Nisa' (4) : 88
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.
QS. an-Nisa' (4) : 138
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.
QS. an-Nisa' (4) : 140
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
QS. an-Nisa' (4) : 142
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
QS. an-Nisa' (4) : 145
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
QS. al-Mai'dah (5) : 52
Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: "Kami telah beriman", padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
QS. al-Mai'dah (5) : 61
dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapatkan giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.
QS. al-Fath (48) : 6
Selasa, 16 Maret 2010
Tentang Munafik (1)
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata:" Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah ". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.
QS. al-Munafiqqun (63) : 1
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
QS. al-Munafiqqun (63) : 2
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.
QS. al-Munafiqqun (63) : 3
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?
QS. al-Munafiqqun (63) : 4
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.
QS. al-Munafiqqun (63) : 5
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
QS. al-Munafiqqun (63) : 6
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah) ". Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.
QS. al-Munafiqqun (63) : 7
Mereka berkata:" Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya ". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.
QS. al-Munafiqqun (63) : 8
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
QS. al-Munafiqqun (63) : 9
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:" Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? "
QS. al-Munafiqqun (63) : 10
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
QS. al-Munafiqqun (63) : 11
QS. al-Munafiqqun (63) : 1
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
QS. al-Munafiqqun (63) : 2
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.
QS. al-Munafiqqun (63) : 3
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?
QS. al-Munafiqqun (63) : 4
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.
QS. al-Munafiqqun (63) : 5
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
QS. al-Munafiqqun (63) : 6
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah) ". Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.
QS. al-Munafiqqun (63) : 7
Mereka berkata:" Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya ". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.
QS. al-Munafiqqun (63) : 8
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
QS. al-Munafiqqun (63) : 9
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:" Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? "
QS. al-Munafiqqun (63) : 10
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
QS. al-Munafiqqun (63) : 11
Senin, 15 Maret 2010
Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….beliau bersabda keangkuhan adalah menolak kebenaran dan menghina orang lain...
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….
islam mengajarkan bahwa kita boleh memakai apa pun model pakaian asal tidak melanggar aturan agama...berpakaian pun dinilai ibadah dalam islam,karena berpakaian pun dituntun aturannya dalam islam, islam sangat menghargai kebudayaan tiap bangsa, tidak ada larangan menggunakan batik atau kebaya, asalkan tidak melanggar aturan agama..adalah aneh di negeri ini, ada sebuah pulau yang dinamai pulau dewata tapi kehidupannya serba boleh, termasuk boleh membuka aurot yang akan menimbulkan kekacauan, berapa banyak guide di bali yang tidak terjerumus kemaksiatan karena masalah pakaian ini?
apakah yang menganjurkan menutup aurot itu tidak lebih baik daripada yang membiarkan aurot terbuka???bagaimana kamu mengambil kesimpulan???
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….
dalam islam dikenal bahwa setiap bangsa diutus seorang dari mereka yang mengajarkan agama islam…Jumlah mereka secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya
menginforrnasikan bahwa,
"Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah
pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS Fathir
[35]: 24).
Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa,
"Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka
ada yang telah kami sampaikan kisahnya, dan ada pula yang
tidak Kami sampaikan kepadamu" (QS Al-Mu'min [40]: 78)
Al-Quran menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima
Nabi/Rasul; delapan belas di antaranya disebutkan dalam
Al-Quran surat Al-An'am (6): 83-86, sisanya didapatkan dari
berbagai ayat.
Nabi Muhammad Saw. seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf
(7): 158 -diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan
khataman nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40)
manakah yang lebih baik, setiap bangsa telah ada pembawa peringatan atau hanya pada bangsa india saja yang ada pembawa peringatan?apakah kalian termasuk orang2 yang dapat memahami???
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….
Nabi Muhammad adalah rahmatan lil ‘alamin…manusia dibebaskan dari doktrin bahwa manusia terdiri dari 4 “kasta”…manusia lebih luas dari pembatasan2 seperti itu...ajaran manakah yang mendekati kebenaran?yang membeda2kan "kasta"?atau yang tidak mengajarkan "kasta"?
ibadah umat islam tidak hanya terbatas pada "bhakti yoga" saja
segala perbuatan baik yang diniatkan untuk beribadah maka tidak ada balasan dari kebaikan selain kebaikan juga...
seorang suami yang mencari nafkah untuk keluarganya bernilai jihad...
seorang istri yang dirumah dan menjaga kehormatan, mendidik anak2 juga dinilai jihad...
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan
atau melakukan interaksi keuangan di antara kamu secara
batil... (QS Al-Baqarah [2]: 188).
manakah yang lebih meginginkan mencapai kebenaran, yang berkata islam hanya bhakti yoga saja, atau yang berhati hati dalam membuat kesimpulan?
apakah ada orang islam atau mantan islam yang mengatakan islam hanya bhakti yoga saja?adakah orang demikian memiliki pengetahuan???
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
QS. Yunus (10) : 36
Nabi Muhammad adalah rahmatan lil ‘alamin…beliau membebaskan manusia dari memuja kepada selainNya…dalam islam Yang Mencipta dan Memelihara Alam adalah sama Allah…dalam Hindu terjadi perbedaan pendapat siapa yang lebih utama brahma atau wisnu dan pertentangan yang lain…lalu apa salahnya islam mengajarkan untuk memuja yang satu????
apakah orang2 yang mengatakan menyembah apa saja boleh itu orang yang hanya mengikuti hawa nafsu belaka?apakah kalian dapat berfikir?
manusia tanpa dicampuri hawa nafsu akan setuju bahwa Allah itu esa...Al-Quran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri
setiap insan, dan bahwa hal tersebut merupakan fitrah
(bawaan) manusia sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami
dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30): 30.
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tiada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui."
menurut hadis Nabi, semua bayi yang dilahirkan adalah pada fitroh tersebut yaitu fitroh muslim,dan orang tuanya memiliki peran anaknya menjadi apa, jika orang tuanya kafir misalnya hindu maka anaknya pun menjadi kafir pula...
dan sekali agi tidak ada Nabi Yang tidak mengingatkan tentang Tauhid
"Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali
Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).
"Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan
bagimu selain-Nya."
Demikian ucapan Nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu'aib yang
diabadikan Al-Quran masing-masing secara berurut dalam surat
Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85.
apakah kalain ingin membuat keraguan pada hati kaum muslim?
akhir kata, tidak ada yang akan menolak kebenaran Al-Qur'an kecuali menolak keselamatan...
Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
QS. al-Isra' (17) : 82
apakah kalian ingin termasuk orang2 yang zalim?apakah kalian ingin mengingkari kebenaran hanya karena dendam masa lalu?
adakah yang lebih dungu dari seorang yang mengingkari kebenaran islam???
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….
islam mengajarkan bahwa kita boleh memakai apa pun model pakaian asal tidak melanggar aturan agama...berpakaian pun dinilai ibadah dalam islam,karena berpakaian pun dituntun aturannya dalam islam, islam sangat menghargai kebudayaan tiap bangsa, tidak ada larangan menggunakan batik atau kebaya, asalkan tidak melanggar aturan agama..adalah aneh di negeri ini, ada sebuah pulau yang dinamai pulau dewata tapi kehidupannya serba boleh, termasuk boleh membuka aurot yang akan menimbulkan kekacauan, berapa banyak guide di bali yang tidak terjerumus kemaksiatan karena masalah pakaian ini?
apakah yang menganjurkan menutup aurot itu tidak lebih baik daripada yang membiarkan aurot terbuka???bagaimana kamu mengambil kesimpulan???
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….
dalam islam dikenal bahwa setiap bangsa diutus seorang dari mereka yang mengajarkan agama islam…Jumlah mereka secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya
menginforrnasikan bahwa,
"Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah
pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS Fathir
[35]: 24).
Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa,
"Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka
ada yang telah kami sampaikan kisahnya, dan ada pula yang
tidak Kami sampaikan kepadamu" (QS Al-Mu'min [40]: 78)
Al-Quran menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima
Nabi/Rasul; delapan belas di antaranya disebutkan dalam
Al-Quran surat Al-An'am (6): 83-86, sisanya didapatkan dari
berbagai ayat.
Nabi Muhammad Saw. seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf
(7): 158 -diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan
khataman nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40)
manakah yang lebih baik, setiap bangsa telah ada pembawa peringatan atau hanya pada bangsa india saja yang ada pembawa peringatan?apakah kalian termasuk orang2 yang dapat memahami???
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia, beliau diutus menjadi Rahmat bagi alam semesta….
Nabi Muhammad adalah rahmatan lil ‘alamin…manusia dibebaskan dari doktrin bahwa manusia terdiri dari 4 “kasta”…manusia lebih luas dari pembatasan2 seperti itu...ajaran manakah yang mendekati kebenaran?yang membeda2kan "kasta"?atau yang tidak mengajarkan "kasta"?
ibadah umat islam tidak hanya terbatas pada "bhakti yoga" saja
segala perbuatan baik yang diniatkan untuk beribadah maka tidak ada balasan dari kebaikan selain kebaikan juga...
seorang suami yang mencari nafkah untuk keluarganya bernilai jihad...
seorang istri yang dirumah dan menjaga kehormatan, mendidik anak2 juga dinilai jihad...
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan
atau melakukan interaksi keuangan di antara kamu secara
batil... (QS Al-Baqarah [2]: 188).
manakah yang lebih meginginkan mencapai kebenaran, yang berkata islam hanya bhakti yoga saja, atau yang berhati hati dalam membuat kesimpulan?
apakah ada orang islam atau mantan islam yang mengatakan islam hanya bhakti yoga saja?adakah orang demikian memiliki pengetahuan???
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
QS. Yunus (10) : 36
Nabi Muhammad adalah rahmatan lil ‘alamin…beliau membebaskan manusia dari memuja kepada selainNya…dalam islam Yang Mencipta dan Memelihara Alam adalah sama Allah…dalam Hindu terjadi perbedaan pendapat siapa yang lebih utama brahma atau wisnu dan pertentangan yang lain…lalu apa salahnya islam mengajarkan untuk memuja yang satu????
apakah orang2 yang mengatakan menyembah apa saja boleh itu orang yang hanya mengikuti hawa nafsu belaka?apakah kalian dapat berfikir?
manusia tanpa dicampuri hawa nafsu akan setuju bahwa Allah itu esa...Al-Quran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri
setiap insan, dan bahwa hal tersebut merupakan fitrah
(bawaan) manusia sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami
dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30): 30.
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tiada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui."
menurut hadis Nabi, semua bayi yang dilahirkan adalah pada fitroh tersebut yaitu fitroh muslim,dan orang tuanya memiliki peran anaknya menjadi apa, jika orang tuanya kafir misalnya hindu maka anaknya pun menjadi kafir pula...
dan sekali agi tidak ada Nabi Yang tidak mengingatkan tentang Tauhid
"Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali
Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).
"Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan
bagimu selain-Nya."
Demikian ucapan Nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu'aib yang
diabadikan Al-Quran masing-masing secara berurut dalam surat
Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85.
apakah kalain ingin membuat keraguan pada hati kaum muslim?
akhir kata, tidak ada yang akan menolak kebenaran Al-Qur'an kecuali menolak keselamatan...
Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
QS. al-Isra' (17) : 82
apakah kalian ingin termasuk orang2 yang zalim?apakah kalian ingin mengingkari kebenaran hanya karena dendam masa lalu?
adakah yang lebih dungu dari seorang yang mengingkari kebenaran islam???
Akhlak (2)
AKHLAK (2/3)
Ketika Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw., beliau
menjawab,
Budi pekerti Nabi Saw. adalah Al-Quran
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).
Semua sifat Allah tertuang dalam Al-Quran. Jumlahnya bahkan
melebihi 99 sifat yang populer disebutkan dalam hadis.
Sifat-sifat Allah itu merupakan satu kesatuan. Bukankah Dia
Esa di dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya? Karenanya tidak
wajar jika sifat-sifat itu dinilai saling bertentangan.
Artinya, semua sifat memiliki tempatnya masing-masing. ada
tempat untuk keperkasaan dan keangkuhan Allah, juga tempat
kasih sayang dan kelemah-lembutan-Nya. Ketika seorang Muslim
meneladani sifat Al-Kibriya' (Keangkuhan Allah), ia harus
ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Tuhan kecuali
dalam konteks ancaman terhadap para pembangkang, terhadap
orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasul Saw melihat
seseorang yang berjalan dengan angkuh di medan perang, beliau
bersabda,
"Itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali
dalam kondisi semacam ini."
Seseorang yang berusaha meneladani sifat Al-Kibriya' tidak
akan meneladaninya kecuali terhadap manusia-manusia yang
angkuh. Dalam konteks ini ditemukan riwayat yang menyatakan,
"Bersikap angkuh terhadap orang yang angkuh adalah
sedekah".
Ketika seorang Muslim berusaha meneladani kekuatan dan
kebesaran Ilahi, harus diingat bahwa sebagai makhluk ia
terdiri dan jasad dan ruh, sehingga keduanya harus sama-sama
kuat. Kekuatan dan kebesaran itu mesti diarahkan untuk
membantu yang kecil dan lemah, bukan digunakan untuk menopang
yang salah maupun yang sewenang-wenang. Karena ketika Al-Quran
mengulang-ulang kebesaran Allah, Al-Quran juga menegaskan
bahwa:
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang,
angkuh lagi membanggakan diri (QS Luqman [31]: 18).
Jika seorang Muslim meneladani Allah Yang Mahakaya, ia harus
menyadari bahwa istilah yang digunakan Al-Quran untuk
menunjukkan sifat itu adalah Al-Ghani. Ini yang maknanya
adalah tidak membutuhkan --dan bukan kaya materi-- sehingga
esensi sifat itu (kekayaan) adalah kemampuan berdiri sendiri
atau tidak menghajatkan pihak lain, sehingga tidak perlu
membuang air muka untuk meminta-minta.
Orang-orang yang tidak tahu, menduga mereka kaya,
karena mereka memelihara diri dari meminta-minta (QS
Al-Baqarah [2]: 273)
Tetapi dalam kedudukan manusia sebagai makhluk, ia sadar bahwa
dirinya amat membutuhkan Allah:
Wahai seluruh manusia, kamu sekalian adalah
orang-orang faqir (butuh) kepada Allah (QS Fathir
[35]: 15).
Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allah yang lain, yang
harus diteladaninya, seperti Maha Mengetahui, Maha Pemaaf,
Maha Bijaksana, Maha Agung, Maha Pengasih, dan lain-lain.
Adalah merupakan keistimewaan bagi seseorang atau masyarakat
jika menjadikan sifat-sifat Allah sebagai tolok ukur, dan
tidak menjadikan kelezatan atau manfaat sesaat sebagai tolok
ukur kebaikan. Karena kelezatan dan manfaat dapat berbeda-beda
antara seseorang dengan yang 1ain, bahkan seseorang yang
berada dalam kondisi dan situasi tertentu juga bisa berbeda,
dengan kondisi lainnya. Boleh jadi suatu masyarakat yang
terjangkiti penyakit akan menilai keburukan sebagai kebaikan.
SASARAN AKHLAK
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika,
jika etika dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia,
serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.
Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan
terdahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak
merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap
batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama) mencakup berbagai
aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada
sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan
benda-benda tak bernyawa).
Berikut upaya pemaparan sekilas beberapa sasaran akhlak
Islamiyah.
a. Akhlak terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan
kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki
sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang jangankan
manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.
Mahasuci engkau --Wahai Allah-- kami tidak mampu
memuji-Mu; Pujian atas-Mu, adalah yang Engkau pujikan
kepada diri-Mu.
Demikian ucapan para malaikat.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran mengajarkan kepada manusia
untuk memuji-Nya, Wa qul al-hamdulillah (Katakanlah
"al-hamdulillah"). Dalam Al-Quran surat An-Nam1 (27): 93,
secara tegas dinyatakan-Nya bahwa,
Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah, Dia akan
memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya,
maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai
dari apa yang kamu kerjakan."
Mahasuci Allah dan segala sifat yang mereka sifatkan
kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba Allah yang
terpilih (QS Ash-Shaffat [37]: 159-160).
Teramati bahwa semua makhluk --kecuali nabi-nabi tertentu--
selalu menyertakan pujian mereka kepada Allah dengan
menyucikan-Nya dari segala kekurangan.
Dan para malaikat menyucikan sambil memuji Tuhan
mereka (QS Asy-Syura [42]: 5).
Guntur menyucikan (Tuhan) sambil memuji-Nya (QS
Ar-Ra'd [13]: 13).
Dan tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih
(menyucikan Allah) sambil memuji-Nya (QS Al-Isra'
[17]: 44).
Semua itu menunjukkan bahwa makhluk tidak dapat mengetahui
dengan baik dan benar betapa kesempurnaan dan keterpujian
Allah Swt. Itu sebabnya mereka --sebelum memuji-Nya--
bertasbih terlebih dahulu dalam arti menyucikan-Nya. Jangan
sampai pujian yang mereka ucapkan tidak sesuai dengan
kebesaran-Nya. Bertitik tolak dari uraian mengenai
kesempurnaan Allah, tidak heran kalau Al-Quran memerintahkan
manusia untuk berserah diri kepada-Nya, karena segala yang
bersumber dari-Nya adalah baik, benar, indah, dan sempurna.
Tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk
menjadikan Allah sebagai "wakil". Misalnya firman-Nya dalam QS
Al-Muzzammil (73): 9:
(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan
melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil
(pelindung).
Kata "wakil" bisa diterjemahkan sebagai "pelindung". Kata
tersebut pada hakikatnya terambil dari kata "wakala-yakilu"
yang berarti mewakilkan.
Apabila seseorang mewakilkan kepada orang lain (untuk suatu
persoalan), maka ia telah menjadikan orang yang mewakili
sebagai dirinya sendiri dalam menangani persoalan tersebut,
sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh
orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya.
Menjadikan Allah sebagai wakil sesuai dengan makna yang
disebutkan di atas berarti menyerahkan segala persoalan
kepada-Nya. Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai
dengan kehendak manusia yang menyerahkan perwakilan itu
kepada-Nya.
Makna seperti itu dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak
dijelaskan lebih jauh. Pertama sekali harus diingat bahwa
keyakinan tentang Keesaan Allah antara lain berarti bahwa
perbuatan-Nya esa, sehingga tidak dapat disamakan dengan
perbuatan manusia, walaupun penamaannya sama. Sebagai contoh,
Allah Maha Pengasih (Rahim) dan Maha Pemurah (Karim). Kedua
sifat ini dapat pula dinisbahkan kepada manusia, namun hakikat
dan kapasitas rahmat dan kemurahan Tuhan tidak dapat disamakan
dengan apa yang dimiliki manusia, karena mempersamakan hal itu
akan berakibat gugurnya makna keesaan.
Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah
Yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Mahabijaksana dan semua maha
yang mengandung pujian. Manusia sebaliknya, memiliki
keterbatasan pada segala hal. Jika demikian "perwakilan"-Nya
pun berbeda dengan perwakilan manusia.
Benar bahwa wakil diharapkan dan dituntut untuk memenuhi
kehendak yang mewakilkan. Namun, karena dalam perwakilan
manusia sering terjadi kedudukan maupun pengetahuan orang yang
mewakilkan lebih tinggi daripada sang wakil, dapat saja orang
yang mewakilkan tidak menyetujui atau membatalkan tindakan
sang waki1 atau menarik kembali perwakilannya, bila ia merasa
--berdasarkan pengetahuan dan keinginannya-- tindakan sang
wakil merugikan. Jika seseorang menjadikan Allah sebagai
wakil, hal serupa tidak akan terjadi, karena sejak semula ia
telah menyadari keterbatasan dirinya, dan menyadari pula
Kemahamutlakan Allah Swt. Oleh karena itu, ia akan menerimanya
dengan sepenuh hati, baik mengetahui maupun tidak hikmah suatu
perbuatan Tuhan.
Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui
(QS Al-Baqarah: 216).
Dan tidak wajar bagi lelaki Mukmin, tidak pula bagi
wanita Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka (QS
Al-Ahzab [33]: 36).
Demikian salah satu perbedaan antara perwakilan manusia kepada
Tuhan dengan perwakilan manusia kepada selain-Nya.
Perbedaan kedua adalah dalam keterlibatan orang yang
mewakilkan.
Jika Anda mewakilkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu,
Anda telah menugaskannya untuk melaksanakan ha1 tertentu. Anda
tidak perlu melibatkan diri, karena hal itu telah dikerjakan
oleh sang wakil.
Ketika menjadikan Allah Swt. sebagai wakil, manusia dituntut
untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya.
Perintah bertawakal kepada Allah --atau perintah
menjadikan-Nya sebagai wakil-- terulang dalam bentuk tunggal
(tawakkal) sebanyak sembilan kali, dan dalam bentuk jamak
(tawakkalu) sebanyak dua kali. Semuanya didahului oleh
perintah melakukan sesuatu, lantas disusul dengan perintah
bertawakal. perhatikan misalnya Al-Quran surat Al-Anfal ayat
61:
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, condonglah
kepadanya, dan bertawakallah kepada Allah.
Yang lebih jelas lagi adalah dalam Al-Quran surat Al-Maidah
Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota); apabila
kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang, dan hanya
kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu
benar-benar orang yang beriman.
Jika Anda telah merasa yakin terhadap kesempurnaan Allah, dan
segala yang dilakukan-Nya adalah baik serta terpuji, Anda pun
harus percaya bahwa:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah,
dan apa saja bencana yang menimpamu, itu dan
(kesalahan) dirimu sendiri (QS An-Nisa' [4]: 79).
Al-Quran memberi contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim
mengekspresikan keyakinan itu dalam ucapan-ucapannya.
Perhatikan pengajaran Allah dalam Al-Quran surat Al-Fatihah:
Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat,
bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan (jalan)
mereka yang sesat (QS Al-Fatihah [1]: 7).
Di sini, petunjuk jalan menuju kebaikan dinyatakan bersumber
dari Allah yang memberi nikmat. Perhatikan redaksi ayat di
atas "yang telah Engkau anugerahi nikmat". Tetapi, ketika
berbicara tentang jalan orang-orang sesat dan yang akan
mendapat murka, tidak dinyatakan "jalan orang-orang yang
Engkau murkai," tetapi "yang dimurkai," karena murka dapat
mengandung makna negatif, sehingga tidak wajar disandar kepada
Allah.
Perhatikan juga ucapan Nabi Ibrahim a.s.:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (QS
Asy-Syu'ara' [26]: 80).
Karena penyakit merupakan sesuatu yang buruk, tidak dinyatakan
bahwa ia berasal dari Tuhan, tetapi, apabila aku sakit
kesembuhan yang merupakan sesuatu yang terpuji, dinyatakan
bahwa "Dia (Allah) yang menyembuhkan".
Sekali lagi, bacalah firman Allah dalam surat Al-Kahf yang
mengisahkan perjalanan Nabi Musa a.s. bersama seorang hamba
pilihan Allah (Khidir a.s.).
Ketika sang hamba Allah itu membocorkan perahu, dia berucap
"Aku ingin merusaknya" (ayat 79), ini disebabkan karena
pembocoran perahu tampak sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi
ketika ia membangun kembali tembok yang hampir rubuh, kalimat
yang digunakan adalah "Maka Tuhanmu menghendaki" (ayat 82),
karena di sana amat jelas sisi positif pembangunan itu. Ketika
Khidhir membunuh seorang bocah dengan maksud agar Tuhan
menggantikan dengan bocah yang lebih baik, redaksi yang
digunakannya adalah "Maka kami berkehendak" (ayat 81).
Kehendaknya adalah pembunuhan, dan kehendak Tuhan adalah
penggantian anak dengan yang lebih baik.
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Akhlaq2.html
Ketika Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw., beliau
menjawab,
Budi pekerti Nabi Saw. adalah Al-Quran
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).
Semua sifat Allah tertuang dalam Al-Quran. Jumlahnya bahkan
melebihi 99 sifat yang populer disebutkan dalam hadis.
Sifat-sifat Allah itu merupakan satu kesatuan. Bukankah Dia
Esa di dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya? Karenanya tidak
wajar jika sifat-sifat itu dinilai saling bertentangan.
Artinya, semua sifat memiliki tempatnya masing-masing. ada
tempat untuk keperkasaan dan keangkuhan Allah, juga tempat
kasih sayang dan kelemah-lembutan-Nya. Ketika seorang Muslim
meneladani sifat Al-Kibriya' (Keangkuhan Allah), ia harus
ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Tuhan kecuali
dalam konteks ancaman terhadap para pembangkang, terhadap
orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasul Saw melihat
seseorang yang berjalan dengan angkuh di medan perang, beliau
bersabda,
"Itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali
dalam kondisi semacam ini."
Seseorang yang berusaha meneladani sifat Al-Kibriya' tidak
akan meneladaninya kecuali terhadap manusia-manusia yang
angkuh. Dalam konteks ini ditemukan riwayat yang menyatakan,
"Bersikap angkuh terhadap orang yang angkuh adalah
sedekah".
Ketika seorang Muslim berusaha meneladani kekuatan dan
kebesaran Ilahi, harus diingat bahwa sebagai makhluk ia
terdiri dan jasad dan ruh, sehingga keduanya harus sama-sama
kuat. Kekuatan dan kebesaran itu mesti diarahkan untuk
membantu yang kecil dan lemah, bukan digunakan untuk menopang
yang salah maupun yang sewenang-wenang. Karena ketika Al-Quran
mengulang-ulang kebesaran Allah, Al-Quran juga menegaskan
bahwa:
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang,
angkuh lagi membanggakan diri (QS Luqman [31]: 18).
Jika seorang Muslim meneladani Allah Yang Mahakaya, ia harus
menyadari bahwa istilah yang digunakan Al-Quran untuk
menunjukkan sifat itu adalah Al-Ghani. Ini yang maknanya
adalah tidak membutuhkan --dan bukan kaya materi-- sehingga
esensi sifat itu (kekayaan) adalah kemampuan berdiri sendiri
atau tidak menghajatkan pihak lain, sehingga tidak perlu
membuang air muka untuk meminta-minta.
Orang-orang yang tidak tahu, menduga mereka kaya,
karena mereka memelihara diri dari meminta-minta (QS
Al-Baqarah [2]: 273)
Tetapi dalam kedudukan manusia sebagai makhluk, ia sadar bahwa
dirinya amat membutuhkan Allah:
Wahai seluruh manusia, kamu sekalian adalah
orang-orang faqir (butuh) kepada Allah (QS Fathir
[35]: 15).
Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allah yang lain, yang
harus diteladaninya, seperti Maha Mengetahui, Maha Pemaaf,
Maha Bijaksana, Maha Agung, Maha Pengasih, dan lain-lain.
Adalah merupakan keistimewaan bagi seseorang atau masyarakat
jika menjadikan sifat-sifat Allah sebagai tolok ukur, dan
tidak menjadikan kelezatan atau manfaat sesaat sebagai tolok
ukur kebaikan. Karena kelezatan dan manfaat dapat berbeda-beda
antara seseorang dengan yang 1ain, bahkan seseorang yang
berada dalam kondisi dan situasi tertentu juga bisa berbeda,
dengan kondisi lainnya. Boleh jadi suatu masyarakat yang
terjangkiti penyakit akan menilai keburukan sebagai kebaikan.
SASARAN AKHLAK
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika,
jika etika dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia,
serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.
Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan
terdahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak
merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap
batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama) mencakup berbagai
aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada
sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan
benda-benda tak bernyawa).
Berikut upaya pemaparan sekilas beberapa sasaran akhlak
Islamiyah.
a. Akhlak terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan
kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki
sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang jangankan
manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.
Mahasuci engkau --Wahai Allah-- kami tidak mampu
memuji-Mu; Pujian atas-Mu, adalah yang Engkau pujikan
kepada diri-Mu.
Demikian ucapan para malaikat.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran mengajarkan kepada manusia
untuk memuji-Nya, Wa qul al-hamdulillah (Katakanlah
"al-hamdulillah"). Dalam Al-Quran surat An-Nam1 (27): 93,
secara tegas dinyatakan-Nya bahwa,
Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah, Dia akan
memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya,
maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai
dari apa yang kamu kerjakan."
Mahasuci Allah dan segala sifat yang mereka sifatkan
kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba Allah yang
terpilih (QS Ash-Shaffat [37]: 159-160).
Teramati bahwa semua makhluk --kecuali nabi-nabi tertentu--
selalu menyertakan pujian mereka kepada Allah dengan
menyucikan-Nya dari segala kekurangan.
Dan para malaikat menyucikan sambil memuji Tuhan
mereka (QS Asy-Syura [42]: 5).
Guntur menyucikan (Tuhan) sambil memuji-Nya (QS
Ar-Ra'd [13]: 13).
Dan tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih
(menyucikan Allah) sambil memuji-Nya (QS Al-Isra'
[17]: 44).
Semua itu menunjukkan bahwa makhluk tidak dapat mengetahui
dengan baik dan benar betapa kesempurnaan dan keterpujian
Allah Swt. Itu sebabnya mereka --sebelum memuji-Nya--
bertasbih terlebih dahulu dalam arti menyucikan-Nya. Jangan
sampai pujian yang mereka ucapkan tidak sesuai dengan
kebesaran-Nya. Bertitik tolak dari uraian mengenai
kesempurnaan Allah, tidak heran kalau Al-Quran memerintahkan
manusia untuk berserah diri kepada-Nya, karena segala yang
bersumber dari-Nya adalah baik, benar, indah, dan sempurna.
Tidak sedikit ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk
menjadikan Allah sebagai "wakil". Misalnya firman-Nya dalam QS
Al-Muzzammil (73): 9:
(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan
melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil
(pelindung).
Kata "wakil" bisa diterjemahkan sebagai "pelindung". Kata
tersebut pada hakikatnya terambil dari kata "wakala-yakilu"
yang berarti mewakilkan.
Apabila seseorang mewakilkan kepada orang lain (untuk suatu
persoalan), maka ia telah menjadikan orang yang mewakili
sebagai dirinya sendiri dalam menangani persoalan tersebut,
sehingga sang wakil melaksanakan apa yang dikehendaki oleh
orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya.
Menjadikan Allah sebagai wakil sesuai dengan makna yang
disebutkan di atas berarti menyerahkan segala persoalan
kepada-Nya. Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai
dengan kehendak manusia yang menyerahkan perwakilan itu
kepada-Nya.
Makna seperti itu dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak
dijelaskan lebih jauh. Pertama sekali harus diingat bahwa
keyakinan tentang Keesaan Allah antara lain berarti bahwa
perbuatan-Nya esa, sehingga tidak dapat disamakan dengan
perbuatan manusia, walaupun penamaannya sama. Sebagai contoh,
Allah Maha Pengasih (Rahim) dan Maha Pemurah (Karim). Kedua
sifat ini dapat pula dinisbahkan kepada manusia, namun hakikat
dan kapasitas rahmat dan kemurahan Tuhan tidak dapat disamakan
dengan apa yang dimiliki manusia, karena mempersamakan hal itu
akan berakibat gugurnya makna keesaan.
Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah
Yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Mahabijaksana dan semua maha
yang mengandung pujian. Manusia sebaliknya, memiliki
keterbatasan pada segala hal. Jika demikian "perwakilan"-Nya
pun berbeda dengan perwakilan manusia.
Benar bahwa wakil diharapkan dan dituntut untuk memenuhi
kehendak yang mewakilkan. Namun, karena dalam perwakilan
manusia sering terjadi kedudukan maupun pengetahuan orang yang
mewakilkan lebih tinggi daripada sang wakil, dapat saja orang
yang mewakilkan tidak menyetujui atau membatalkan tindakan
sang waki1 atau menarik kembali perwakilannya, bila ia merasa
--berdasarkan pengetahuan dan keinginannya-- tindakan sang
wakil merugikan. Jika seseorang menjadikan Allah sebagai
wakil, hal serupa tidak akan terjadi, karena sejak semula ia
telah menyadari keterbatasan dirinya, dan menyadari pula
Kemahamutlakan Allah Swt. Oleh karena itu, ia akan menerimanya
dengan sepenuh hati, baik mengetahui maupun tidak hikmah suatu
perbuatan Tuhan.
Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui
(QS Al-Baqarah: 216).
Dan tidak wajar bagi lelaki Mukmin, tidak pula bagi
wanita Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka (QS
Al-Ahzab [33]: 36).
Demikian salah satu perbedaan antara perwakilan manusia kepada
Tuhan dengan perwakilan manusia kepada selain-Nya.
Perbedaan kedua adalah dalam keterlibatan orang yang
mewakilkan.
Jika Anda mewakilkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu,
Anda telah menugaskannya untuk melaksanakan ha1 tertentu. Anda
tidak perlu melibatkan diri, karena hal itu telah dikerjakan
oleh sang wakil.
Ketika menjadikan Allah Swt. sebagai wakil, manusia dituntut
untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya.
Perintah bertawakal kepada Allah --atau perintah
menjadikan-Nya sebagai wakil-- terulang dalam bentuk tunggal
(tawakkal) sebanyak sembilan kali, dan dalam bentuk jamak
(tawakkalu) sebanyak dua kali. Semuanya didahului oleh
perintah melakukan sesuatu, lantas disusul dengan perintah
bertawakal. perhatikan misalnya Al-Quran surat Al-Anfal ayat
61:
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, condonglah
kepadanya, dan bertawakallah kepada Allah.
Yang lebih jelas lagi adalah dalam Al-Quran surat Al-Maidah
Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota); apabila
kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang, dan hanya
kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu
benar-benar orang yang beriman.
Jika Anda telah merasa yakin terhadap kesempurnaan Allah, dan
segala yang dilakukan-Nya adalah baik serta terpuji, Anda pun
harus percaya bahwa:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah,
dan apa saja bencana yang menimpamu, itu dan
(kesalahan) dirimu sendiri (QS An-Nisa' [4]: 79).
Al-Quran memberi contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim
mengekspresikan keyakinan itu dalam ucapan-ucapannya.
Perhatikan pengajaran Allah dalam Al-Quran surat Al-Fatihah:
Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat,
bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan (jalan)
mereka yang sesat (QS Al-Fatihah [1]: 7).
Di sini, petunjuk jalan menuju kebaikan dinyatakan bersumber
dari Allah yang memberi nikmat. Perhatikan redaksi ayat di
atas "yang telah Engkau anugerahi nikmat". Tetapi, ketika
berbicara tentang jalan orang-orang sesat dan yang akan
mendapat murka, tidak dinyatakan "jalan orang-orang yang
Engkau murkai," tetapi "yang dimurkai," karena murka dapat
mengandung makna negatif, sehingga tidak wajar disandar kepada
Allah.
Perhatikan juga ucapan Nabi Ibrahim a.s.:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (QS
Asy-Syu'ara' [26]: 80).
Karena penyakit merupakan sesuatu yang buruk, tidak dinyatakan
bahwa ia berasal dari Tuhan, tetapi, apabila aku sakit
kesembuhan yang merupakan sesuatu yang terpuji, dinyatakan
bahwa "Dia (Allah) yang menyembuhkan".
Sekali lagi, bacalah firman Allah dalam surat Al-Kahf yang
mengisahkan perjalanan Nabi Musa a.s. bersama seorang hamba
pilihan Allah (Khidir a.s.).
Ketika sang hamba Allah itu membocorkan perahu, dia berucap
"Aku ingin merusaknya" (ayat 79), ini disebabkan karena
pembocoran perahu tampak sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi
ketika ia membangun kembali tembok yang hampir rubuh, kalimat
yang digunakan adalah "Maka Tuhanmu menghendaki" (ayat 82),
karena di sana amat jelas sisi positif pembangunan itu. Ketika
Khidhir membunuh seorang bocah dengan maksud agar Tuhan
menggantikan dengan bocah yang lebih baik, redaksi yang
digunakannya adalah "Maka kami berkehendak" (ayat 81).
Kehendaknya adalah pembunuhan, dan kehendak Tuhan adalah
penggantian anak dengan yang lebih baik.
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Akhlaq2.html
Akhlak (1)
AKHLAK (1/3)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan
sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun
terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat,
perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu
tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk
tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam
Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai
konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul,
Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi
pekerti yang agung (QS Al-Qalam [68]: 4).
Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Saw.,
dan salah satunya yang paling populer adalah,
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia
Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak
sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak
atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah
berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keaneka-ragaman
tersebut.
Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat
beragam (QS Al-Lail [92]: 4).
Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut,
antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan
buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu
ditujukan.
BAIK DAN BURUK
Para filosof dan teolog sering membahas tentang arti baik dan
buruk, serta tentang pencipta kelakuan tersebut, yakni apakah
kelakuan itu merupakan hasil pilihan atau perbuatan manusia
sendiri, ataukah berada di luar kemampuannya?
Tulisan ini tidak akan mengarungi samudera pemikiran yang
dalam lagi sering menenggelamkan itu, namun kita dapat berkata
bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa
terdapat manusia yang berkelakuan baik, dan juga sebaliknya.
Ini berarti bahwa manusia memiliki kedua potensi tersebut.
Terdapat sekian banyak ayat Al-Quran yang dipahami menguraikan
hal hakikat ini, antara lain:
Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya
(manusia) dua jalan mendaki (baik dan buruk) (QS
Al-Balad [90]: 10).
...dan (demi) jiwa serta penyempurnaaaan ciptaannya,
maka Allah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan
ketakwaan (QS Asy-Syams [91]: 7-8).
Walaupun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, namun
ditemukan isyarat-isyarat dalam Al-Quran bahwa kebajikan lebih
dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan, dan bahwa
manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.
Al-Quran surat Thaha (20): 121 menguraikan bahwa Iblis
menggoda Adam sehingga,
... durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.
Redaksi ini menunjukkan bahwa sebelum digoda oleh Iblis, Adam
tidak durhaka, dalam arti, tidak melakukan sesuatu yang buruk,
dan bahwa akibat godaan itu, ia menjadi tersesat. Walaupun
kemudian Adam bertobat kepada Tuhan, sehingga ia kembali lagi
pada kesuciannya.
Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan
konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman.
Perbedaan --jika terjadi-- terletak pada bentuk, penerapan,
atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep
moral, yang disebut ma'ruf dalam bahasa Al-Quran. Tidak ada
peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau
keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa
penghormatan kepada kedua orang-tua adalah buruk. Tetapi,
bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara
penghormatan kepada keduanya berbeda-beda antara satu
masyarakat pada generasi tertentu dengan masyarakat pada
generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu selama dinilai
baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum,
maka ia tetap dinilai baik (ma'ruf).
Kembali kepada persoalan kecenderungan manusia terhadap
kebaikan, atau pandangan tentang kesucian manusia sejak lahir,
hadis-hadis Nabi Saw. pun antara lain menginformasikannya:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah),
hanya saja kedua orang-tuanya (lingkungannya) yang
menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR
Bukhari).
Seorang sahabat Nabi Saw. bernama Wabishah bin Ma'bad
berkunjung kepada Nabi Saw., lalu beliau menyapanya dengan
bersabda:
"Engkau datang menanyakan kebaikan?" "Benar, wahai
Rasul," jawab Wabishah. "Tanyailah hatimu! "Kebajikan
adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang
tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang
mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun
setelah orang memberimu fatwa." (HR Ahmad dan
Ad-Darimi).
Dengan demikian menjadi amat wajar jika ditemukan ayat-ayat
Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa manusia pada hakikatnya
--setidaknya pada awal masa perkembangan-- tidak akan sulit
melakukan kebajikan, berbeda halnya dengan melakukan
keburukan.
Salah satu frase dalam surat Al-Baqarah ayat 286 menyatakan,
Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang
dilakukannya dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang
dilakukannya
Oleh beberapa ulama, frase ini kerap dijadikan sebagai bukti
apa yang disebut di atas. Dalam terjemahan di atas terlihat
bahwa kalimat "yang dilakukan" terulang dua kali: yang pertama
adalah terjemahan dari kata kasabat dan kedua terjemahan dan
kata iktasabat.
Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menyatakan kata
iktasabat, dan semua kata yang berpatron demikian, memberi
arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya,
berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah
tanpa pemaksaan. Dalam ayat di atas, perbuatan-perbuatan
manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat, sedangkan
perbuatan yang baik dengan kasabat. Ini menandakan bahwa
fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan,
sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya
dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah
dan keterpaksaan (ini tentu pada saat fitrah manusia masih
berada dalam kesuciannya).
Potensi yang dimiliki manusia untuk melakukan kebaikan dan
keburukan, serta kecenderungannya yang mendasar kepada
kebaikan, seharusnya mengantarkan manusia memperkenankan
perintah Allah (agama-Nya) yang dinyatakan-Nya sesuai dengan
fithrah (asal kejadian manusia). Dalam Al-Quran surat Ar-Rum
(30): 30 dinyatakan,
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Al1ah). Itulah fithrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fithrah itu.
Di sisi lain, karena kebajikan merupakan pilihan dasar
manusia, kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban,
sang manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri:
Bacalah kitab amalmu (catatan perbuatanmu); cukuplah
engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu
(QS Al-Isra' [17]: 14).
PERTANGGUNGJAWABAN
Atas dasar uraian di atas, Al-Quran membebaskan manusia untuk
memilih kedua jalan yang tadi disebutkan, tetapi ia sendiri
yang harus mempertanggung-jawabkan pilihannya. Manusia tidak
boleh membebani orang lain untuk memikul dosanya, tidak juga
dosa orang lain dipikulkan ke atas pundaknya. Tetapi dalam
Al-Quran surat Al-An'am ayat 164 dinyatakan bahwa tanggung
jawab tersebut baru dituntut apabila memenuhi syaratsyarat
tertentu, seperti pengetahuan, kemampuan, serta kesadaran.
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami
mengutus seorang rasul... (QS Al-Isra' [17]: 15).
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan
kemampuannya... (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Dari gabungan kedua ayat ini, kita dapat memetik paling tidak
dua kaidah yang berkaitan dengan tanggung jawab, yaitu:
1. Manusia tidak diminta untuk mempertanggungjawabkan
apa yang tidak diketahui atau tidak mampu
dilakukannya.
2. Manusia tidak dituntut mempertanggungiawabkan apa
yang tidak dilakukannya, sekalipun hal tersebut
diketahuinya.
Di sisi lain, ditemukan ayat-ayat yang menegaskan bahwa
pertanggungjawaban tersebut berkaitan dengan perbuatan yang
disengaja, bukan gerak refleks yang tidak melibatkan kehendak.
Al-Quran secara tegas menyatakan:
Allah tidak akan meminta pertanggungjawabanmu atas
sumpah-sumpah yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia
akan meminta pertanggungjawabanmu terhadap apa yang
disengaja oleh hatimu... (QS Al-Baqarah [2]: 225).
...tetapi jika seseorang terpaksa, sedangkan ia tidak
menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka
tidak ada dosa baginya... (QS Al-Baqarah [2]: 173).
Dapat juga disimpulkan, bahwa karena manusia diberi kemampuan
untuk memilih, maka pertanggungjawaban berkaitan dengan niat
dan kehendaknya. Atas dasar ini pula, maka niat dan kehendak
seseorang mempunyai peran yang sangat besar dalam nilai amal
sekaligus dalam pertanggungjawabannya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia
beriman, dia mendapatkan kemurkaan Allah, kecuali
orang-orang yang dipaksa kafir sedang hatinya tetap
tenang dalam keimanan... (QS An-Nahl [16]: 106) .
Al-Quran surat Al-Isra ayat 23-24 memerintahkan kepada seorang
anak agar menghormati kedua orang-tuanya, khususnya kalau usia
mereka sudah tua (karena ketika telah uzur boleh jadi mereka
melakukan hal-hal yang menjengkelkan). Anak dilarang berkata
uf (cis), dan harus memilih kata-kata yang baik, sambil
merendahkan diri kepada keduanya. Ayat ini disusul dengan
firman-Nya:
Tuhanmu lebih mengetahui yang ada dalam hatimu. Jika
seandainya kamu orang baik-baik (Allah akan
memaaafkan sikap dan ke1akuan yang telah kamu lakukan
dengan terpaksa, tidak sadar, atau yang berada di
luar kontrol kemampuanmu), karena Allah Maha
Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (QS Al-Isra'
[17]: 25).
TOLOK UKUR KELAKUAN BAIK
Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada
ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan
ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh
Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya,
tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik,
karena kebohongan esensinya buruk.
Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia
memiliki segala sifat yang terpuji. Al-Quran suci surat Thaha
(20): 8 menegaskan:
(Dialah) Allah tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai
Sifat-sifat yang terpuji (Al-Asma' Al-Husna) (QS
Thaha [20]: 8).
Rasulullah Saw. juga memerintahkan umatnya agar berusaha
sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk
meneladani Allah dalam semua sifat-sifat-Nya,
Berakhlaklah dengan akhlak Allah.
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Akhlaq1.html
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan
sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun
terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat,
perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu
tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk
tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam
Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai
konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul,
Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi
pekerti yang agung (QS Al-Qalam [68]: 4).
Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Saw.,
dan salah satunya yang paling populer adalah,
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia
Bertitik tolak dari pengertian bahasa di atas, yakni akhlak
sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak
atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah
berikut ini dapat menjadi salah satu argumen keaneka-ragaman
tersebut.
Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat
beragam (QS Al-Lail [92]: 4).
Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut,
antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan
buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu
ditujukan.
BAIK DAN BURUK
Para filosof dan teolog sering membahas tentang arti baik dan
buruk, serta tentang pencipta kelakuan tersebut, yakni apakah
kelakuan itu merupakan hasil pilihan atau perbuatan manusia
sendiri, ataukah berada di luar kemampuannya?
Tulisan ini tidak akan mengarungi samudera pemikiran yang
dalam lagi sering menenggelamkan itu, namun kita dapat berkata
bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa
terdapat manusia yang berkelakuan baik, dan juga sebaliknya.
Ini berarti bahwa manusia memiliki kedua potensi tersebut.
Terdapat sekian banyak ayat Al-Quran yang dipahami menguraikan
hal hakikat ini, antara lain:
Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya
(manusia) dua jalan mendaki (baik dan buruk) (QS
Al-Balad [90]: 10).
...dan (demi) jiwa serta penyempurnaaaan ciptaannya,
maka Allah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan
ketakwaan (QS Asy-Syams [91]: 7-8).
Walaupun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, namun
ditemukan isyarat-isyarat dalam Al-Quran bahwa kebajikan lebih
dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan, dan bahwa
manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.
Al-Quran surat Thaha (20): 121 menguraikan bahwa Iblis
menggoda Adam sehingga,
... durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.
Redaksi ini menunjukkan bahwa sebelum digoda oleh Iblis, Adam
tidak durhaka, dalam arti, tidak melakukan sesuatu yang buruk,
dan bahwa akibat godaan itu, ia menjadi tersesat. Walaupun
kemudian Adam bertobat kepada Tuhan, sehingga ia kembali lagi
pada kesuciannya.
Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan
konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman.
Perbedaan --jika terjadi-- terletak pada bentuk, penerapan,
atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep
moral, yang disebut ma'ruf dalam bahasa Al-Quran. Tidak ada
peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau
keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa
penghormatan kepada kedua orang-tua adalah buruk. Tetapi,
bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara
penghormatan kepada keduanya berbeda-beda antara satu
masyarakat pada generasi tertentu dengan masyarakat pada
generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu selama dinilai
baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum,
maka ia tetap dinilai baik (ma'ruf).
Kembali kepada persoalan kecenderungan manusia terhadap
kebaikan, atau pandangan tentang kesucian manusia sejak lahir,
hadis-hadis Nabi Saw. pun antara lain menginformasikannya:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah),
hanya saja kedua orang-tuanya (lingkungannya) yang
menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR
Bukhari).
Seorang sahabat Nabi Saw. bernama Wabishah bin Ma'bad
berkunjung kepada Nabi Saw., lalu beliau menyapanya dengan
bersabda:
"Engkau datang menanyakan kebaikan?" "Benar, wahai
Rasul," jawab Wabishah. "Tanyailah hatimu! "Kebajikan
adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang
tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang
mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun
setelah orang memberimu fatwa." (HR Ahmad dan
Ad-Darimi).
Dengan demikian menjadi amat wajar jika ditemukan ayat-ayat
Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa manusia pada hakikatnya
--setidaknya pada awal masa perkembangan-- tidak akan sulit
melakukan kebajikan, berbeda halnya dengan melakukan
keburukan.
Salah satu frase dalam surat Al-Baqarah ayat 286 menyatakan,
Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang
dilakukannya dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang
dilakukannya
Oleh beberapa ulama, frase ini kerap dijadikan sebagai bukti
apa yang disebut di atas. Dalam terjemahan di atas terlihat
bahwa kalimat "yang dilakukan" terulang dua kali: yang pertama
adalah terjemahan dari kata kasabat dan kedua terjemahan dan
kata iktasabat.
Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menyatakan kata
iktasabat, dan semua kata yang berpatron demikian, memberi
arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya,
berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah
tanpa pemaksaan. Dalam ayat di atas, perbuatan-perbuatan
manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat, sedangkan
perbuatan yang baik dengan kasabat. Ini menandakan bahwa
fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan,
sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya
dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah
dan keterpaksaan (ini tentu pada saat fitrah manusia masih
berada dalam kesuciannya).
Potensi yang dimiliki manusia untuk melakukan kebaikan dan
keburukan, serta kecenderungannya yang mendasar kepada
kebaikan, seharusnya mengantarkan manusia memperkenankan
perintah Allah (agama-Nya) yang dinyatakan-Nya sesuai dengan
fithrah (asal kejadian manusia). Dalam Al-Quran surat Ar-Rum
(30): 30 dinyatakan,
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Al1ah). Itulah fithrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fithrah itu.
Di sisi lain, karena kebajikan merupakan pilihan dasar
manusia, kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban,
sang manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri:
Bacalah kitab amalmu (catatan perbuatanmu); cukuplah
engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu
(QS Al-Isra' [17]: 14).
PERTANGGUNGJAWABAN
Atas dasar uraian di atas, Al-Quran membebaskan manusia untuk
memilih kedua jalan yang tadi disebutkan, tetapi ia sendiri
yang harus mempertanggung-jawabkan pilihannya. Manusia tidak
boleh membebani orang lain untuk memikul dosanya, tidak juga
dosa orang lain dipikulkan ke atas pundaknya. Tetapi dalam
Al-Quran surat Al-An'am ayat 164 dinyatakan bahwa tanggung
jawab tersebut baru dituntut apabila memenuhi syaratsyarat
tertentu, seperti pengetahuan, kemampuan, serta kesadaran.
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami
mengutus seorang rasul... (QS Al-Isra' [17]: 15).
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan
kemampuannya... (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Dari gabungan kedua ayat ini, kita dapat memetik paling tidak
dua kaidah yang berkaitan dengan tanggung jawab, yaitu:
1. Manusia tidak diminta untuk mempertanggungjawabkan
apa yang tidak diketahui atau tidak mampu
dilakukannya.
2. Manusia tidak dituntut mempertanggungiawabkan apa
yang tidak dilakukannya, sekalipun hal tersebut
diketahuinya.
Di sisi lain, ditemukan ayat-ayat yang menegaskan bahwa
pertanggungjawaban tersebut berkaitan dengan perbuatan yang
disengaja, bukan gerak refleks yang tidak melibatkan kehendak.
Al-Quran secara tegas menyatakan:
Allah tidak akan meminta pertanggungjawabanmu atas
sumpah-sumpah yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia
akan meminta pertanggungjawabanmu terhadap apa yang
disengaja oleh hatimu... (QS Al-Baqarah [2]: 225).
...tetapi jika seseorang terpaksa, sedangkan ia tidak
menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka
tidak ada dosa baginya... (QS Al-Baqarah [2]: 173).
Dapat juga disimpulkan, bahwa karena manusia diberi kemampuan
untuk memilih, maka pertanggungjawaban berkaitan dengan niat
dan kehendaknya. Atas dasar ini pula, maka niat dan kehendak
seseorang mempunyai peran yang sangat besar dalam nilai amal
sekaligus dalam pertanggungjawabannya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia
beriman, dia mendapatkan kemurkaan Allah, kecuali
orang-orang yang dipaksa kafir sedang hatinya tetap
tenang dalam keimanan... (QS An-Nahl [16]: 106) .
Al-Quran surat Al-Isra ayat 23-24 memerintahkan kepada seorang
anak agar menghormati kedua orang-tuanya, khususnya kalau usia
mereka sudah tua (karena ketika telah uzur boleh jadi mereka
melakukan hal-hal yang menjengkelkan). Anak dilarang berkata
uf (cis), dan harus memilih kata-kata yang baik, sambil
merendahkan diri kepada keduanya. Ayat ini disusul dengan
firman-Nya:
Tuhanmu lebih mengetahui yang ada dalam hatimu. Jika
seandainya kamu orang baik-baik (Allah akan
memaaafkan sikap dan ke1akuan yang telah kamu lakukan
dengan terpaksa, tidak sadar, atau yang berada di
luar kontrol kemampuanmu), karena Allah Maha
Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (QS Al-Isra'
[17]: 25).
TOLOK UKUR KELAKUAN BAIK
Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada
ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan
ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh
Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya,
tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik,
karena kebohongan esensinya buruk.
Di sisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia
memiliki segala sifat yang terpuji. Al-Quran suci surat Thaha
(20): 8 menegaskan:
(Dialah) Allah tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai
Sifat-sifat yang terpuji (Al-Asma' Al-Husna) (QS
Thaha [20]: 8).
Rasulullah Saw. juga memerintahkan umatnya agar berusaha
sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk
meneladani Allah dalam semua sifat-sifat-Nya,
Berakhlaklah dengan akhlak Allah.
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Akhlaq1.html
Tentang Rasulullah...(3)
Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri,
fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat
dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan
kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak
demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama
jenisnya dengan batu yang di jalan, tetapi ia memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu lain. Dalam
bahasa tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain adalah
basyariyah bukan pada insaniyah." Perhatikan bunyi firman
tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.
Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah
Swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus
sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)
"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi
yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari
kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l).
Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia,
karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat
dimiliki oleh manusia
Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim
kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan
ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun
beribadah.
Sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. membuktikan bahwa beliau
menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta
pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang
bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum
berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui
kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat
memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw.,
antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara
pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Di sini fungsi beliau sebagai syahid/syahid akan dijelaskan
agak mendalam.
Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu
menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.)
menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]: 143)
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik
dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati
(pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada
posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh
kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam
ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di
antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi
saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi
umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang juga
berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan
bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata
tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan menjadi saksi
di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu,
seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4):
41:
Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami
menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami
hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka
(QS Al-Nisa, [4]: 41).
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang
menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka
mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka
yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu
memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya.
Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang
secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk
menjadi syahid (saksi)."
Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.
Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa
para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru oleh Allah
dengan nama-nama mereka; Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa...,
dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt.
sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya
ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan
panggilan-panggilan mesra, seperti Ya ayyuhal muddatstsir,
atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau
pun ada ayat yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi
dengan gelar kehormatan. Perhatikan firman-Nya dalam surat
Ali-'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan
Al-Shaff (61): 6.
Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa Al-Quran berpesan
kepada kaum mukmin.
"Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara
kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang
lain... (QS Al-Nur [24]: 63).
Sikap Allah kepada Rasul Saw. dapat juga dilihat dengan
membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s.
Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya
kelapangan dada, serta memohon agar Allah memudahkan segala
persoalannya.
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku
urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).
Sedangkan Nabi Muhammad Saw. memperoleh anugerah kelapangan
dada tanpa mengajukan permohonan. Perhatikan firman Allah
dalam surat Alam Nasyrah, Bukankah Kami telah melapangkan
dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).
Dapat diambil kesimpulan bahwa yang diberi tanpa bermohon
tentunya lebih dicintai daripada yang bermohon, baik
permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.
Permohonan Nabi Musa a.s. adalah agar urusannya dipermudah,
sedangkan Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar urusan yang
dimudahkan Tuhan, melainkan beliau sendiri yang dianugerahi
kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi
-dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu menyelesaikannya.
Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad
dalam surat Al-A'la (87): 8:
"Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena satu
dan lain sebab-tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang
bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan
tetap akan terselesaikan.
Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja.
Juga dengan keistimewaan kedua, yaitu "jalan yang beliau
tempuh selalu dimudahkan Tuhan" sebagaimana tersurat dalam
firman Allah, "Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
(QS Al-A'la [87]: 8).
Dari sini jelas bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad
Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa a.s., karena
beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda,
sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh anugerah "kemudahan
urusan" setelah mengajukan permohonannya.
Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh
Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan
sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.
Dari Al-Quran ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah
kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut
Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin
kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.
"Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan
mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti
bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula
yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)
Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau
telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."
Teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap
ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti
orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun
ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak
disiksa.
"Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah
menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali 'Imran [3]:
128).
Perhatikan teguran Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada
Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani orang buta yang
datang meminta untuk belajar pada saat Nabi Saw. sedang
melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di
Makkah
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah
datang seorang buta kepadanya..."
Teguran ini dikemukakan dengan rangkaian sepuluh ayat, dan
diakhiri dengan:
"Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran
Allah adalah suatu peringatan" (QS 'Abasa [80]: 11).
Nabi berpaling dan sekadar bermuka masam ketika seseorang
mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat;
hakikatnya dapat dinilai sudah sangat baik bila dikerjakan
oleh manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia
pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yang dalam
istilah Al-Quran disebut zanb (dosa).
Dalam hal ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar,
sayyiat al-muqarrabin, yang berarti "kebajikan-kebajikan yang
dilakukan oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa
(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan."
--oo0oo--
Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad Saw.
amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersirat maupun
tersurat dalam Al-Quran, maupun dari sunnah, riwayat, dan
pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau
dan menguraikan seluruhnya, karena itu sungguh tepat
kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri,
"Batas pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah
seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk
Allah seluruhnya."
Allahumma shalli wa sallim 'alaih. []
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Muhammad3.html
fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat
dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan
kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak
demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama
jenisnya dengan batu yang di jalan, tetapi ia memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu lain. Dalam
bahasa tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain adalah
basyariyah bukan pada insaniyah." Perhatikan bunyi firman
tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.
Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah
Swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus
sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)
"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi
yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari
kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l).
Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia,
karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat
dimiliki oleh manusia
Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim
kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan
ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun
beribadah.
Sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. membuktikan bahwa beliau
menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta
pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang
bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum
berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui
kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat
memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw.,
antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara
pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Di sini fungsi beliau sebagai syahid/syahid akan dijelaskan
agak mendalam.
Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu
menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.)
menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]: 143)
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik
dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati
(pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada
posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh
kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam
ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di
antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi
saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi
umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang juga
berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan
bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata
tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan menjadi saksi
di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu,
seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4):
41:
Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami
menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami
hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka
(QS Al-Nisa, [4]: 41).
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang
menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka
mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka
yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu
memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya.
Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang
secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk
menjadi syahid (saksi)."
Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.
Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa
para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru oleh Allah
dengan nama-nama mereka; Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa...,
dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt.
sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya
ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan
panggilan-panggilan mesra, seperti Ya ayyuhal muddatstsir,
atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau
pun ada ayat yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi
dengan gelar kehormatan. Perhatikan firman-Nya dalam surat
Ali-'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan
Al-Shaff (61): 6.
Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa Al-Quran berpesan
kepada kaum mukmin.
"Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara
kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang
lain... (QS Al-Nur [24]: 63).
Sikap Allah kepada Rasul Saw. dapat juga dilihat dengan
membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s.
Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya
kelapangan dada, serta memohon agar Allah memudahkan segala
persoalannya.
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku
urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).
Sedangkan Nabi Muhammad Saw. memperoleh anugerah kelapangan
dada tanpa mengajukan permohonan. Perhatikan firman Allah
dalam surat Alam Nasyrah, Bukankah Kami telah melapangkan
dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).
Dapat diambil kesimpulan bahwa yang diberi tanpa bermohon
tentunya lebih dicintai daripada yang bermohon, baik
permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.
Permohonan Nabi Musa a.s. adalah agar urusannya dipermudah,
sedangkan Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar urusan yang
dimudahkan Tuhan, melainkan beliau sendiri yang dianugerahi
kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi
-dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu menyelesaikannya.
Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad
dalam surat Al-A'la (87): 8:
"Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena satu
dan lain sebab-tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang
bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan
tetap akan terselesaikan.
Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja.
Juga dengan keistimewaan kedua, yaitu "jalan yang beliau
tempuh selalu dimudahkan Tuhan" sebagaimana tersurat dalam
firman Allah, "Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
(QS Al-A'la [87]: 8).
Dari sini jelas bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad
Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa a.s., karena
beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda,
sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh anugerah "kemudahan
urusan" setelah mengajukan permohonannya.
Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh
Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan
sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.
Dari Al-Quran ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah
kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut
Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin
kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.
"Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan
mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti
bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula
yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)
Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau
telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."
Teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap
ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti
orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun
ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak
disiksa.
"Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah
menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali 'Imran [3]:
128).
Perhatikan teguran Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada
Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani orang buta yang
datang meminta untuk belajar pada saat Nabi Saw. sedang
melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di
Makkah
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah
datang seorang buta kepadanya..."
Teguran ini dikemukakan dengan rangkaian sepuluh ayat, dan
diakhiri dengan:
"Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran
Allah adalah suatu peringatan" (QS 'Abasa [80]: 11).
Nabi berpaling dan sekadar bermuka masam ketika seseorang
mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat;
hakikatnya dapat dinilai sudah sangat baik bila dikerjakan
oleh manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia
pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yang dalam
istilah Al-Quran disebut zanb (dosa).
Dalam hal ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar,
sayyiat al-muqarrabin, yang berarti "kebajikan-kebajikan yang
dilakukan oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa
(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan."
--oo0oo--
Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad Saw.
amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersirat maupun
tersurat dalam Al-Quran, maupun dari sunnah, riwayat, dan
pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau
dan menguraikan seluruhnya, karena itu sungguh tepat
kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri,
"Batas pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah
seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk
Allah seluruhnya."
Allahumma shalli wa sallim 'alaih. []
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Muhammad3.html
Tentang Rasulullah...(2)
Kegelisahan itu bertambah besar pada saat wahyu yang beliau
nanti-nantikan tidak kunjung datang, hingga menurut beberapa
riwayat beliau sedemikian gelisah, sampai-sampai konon beliau
hampir saja mencelakakan dirinya. Rupanya Allah Swt. bermaksud
menjadikan beliau lebih merindukan lagi "sang kekasih dan
firman-firman-Nya" agar semakin mantap cinta beliau
kepada-Nya.
Surat Adh-Dhuha menyatakan sekelumit hal itu, sekaligus
sekilas kedudukan beliau di sisi Allah. Surat ini turun
berkenaan dengan kegelisahan Nabi Muhammad Saw. karena
ketidakhadiran Malaikat Jibril membawa wahyu setelah sekian
kali sebelumnya datang.
"Demi adh-dhuha, dan malam ketika hening. Tuhanmu tidak
meninggalkan kamu dan tidak pula membenci-(mu dan siapa pun).
Mengapa adh-dhuha -yakni "matahari ketika naik
sepenggalah"-yang dipilih berkaitan dengan wahyu-wahyu yang
diterima oleh Nabi Saw., atau apakah adh-dhuha ada kaitannya
dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?
Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi
seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak
menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan panasnya memberikan
kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan.
Di sini Allah Swt. melambangkan kehadiran wahyu selama ini
sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian
jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran
wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
Dari kedua hal yang bertolak belakang itu, Allah menafikan
dugaan atau tanggapan yang menyatakan bahwa Muhammad Saw.
telah ditinggalkan oleh Tuhannya, atau bahkan Tuhan telah
membencinya. Kehadiran malam tidak menjadikan seseorang boleh
berkata bahwa matahari tidak akan terbit lagi, karena
kenyataan sehari-hari membuktikan kekeliruan ucapan seperti
itu. Nah, ketidakhadiran wahyu beberapa saat tidak dapat
dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa wahyu tidak akan hadir
lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.
Ketidakhadiran antara lain menjadi isyarat kepada Nabi
Muhammad Saw. untuk beristirahat, karena "malam" dijadikan
Tuhan sebagai waktu "beristirahat."
Dapat juga dikatakan bahwa ketidakhadiran wahyu justru pada
saat Nabi Muhammad menanti-nantikannya, membuktikan bahwa
wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri. Walaupun keinginan Nabi
Saw. meluap-luap menantikan kehadirannya, namun jika Tuhan
tidak menghendaki, wahyu tidak akan datang. Ini membuktikan
bahwa wahyu bukan merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.
Kenabian Muhammad Saw. bukan merupakan hal yang baru bagi umat
manusia. Nabi Muhammad secara tegas diperintahkan untuk
menyatakan hal itu,
"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara
rasul-rasul. Aku tidak mengetahui yang diperbuat terhadapku,
tidak juga terhadapmu. Aku tidak lain hanya mengikuti yang
diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain seorang pemberi
peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)
Namun demikian' kenabian Muhammad Saw. berbeda dengan kenabian
utusan Tuhan yang lain. Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul
diutus untuk masyarakat dan waktu tertentu, tetapi Nabi
Muhammad Saw. diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan
tempat,
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua'" (QS
Al-A'raf [7]: 158)
Ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi
Muhammad Saw. hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada
orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah,
beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.
Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Makkah beliau
telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia.
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua.'" (QS
Al-A'raf [7]: 158).
Ayat ini turun ketika Nabi Saw. sedang berada di Makkah,
bahkan menurut sementara ulama, semua ayat Al-Quran yang
dimulai dengan panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya
turun di Makkah kecuali beberapa ayat.
Perbedaan yang lain adalah para nabi sebelum beliau selalu
mengaitkan kenabian dengan hal-hal yang bersifat
suprarasional, baik berbentuk sihir, pengetahuan gaib,
mimpi-mimpi, dan lain-lain.
Isa a.s. misalnya bersabda,
"Sesungguhnya Aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti
(mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat burung untuk kamu
dari tanah, kemudian aku meniupnya sehingga ia menjadi burung
dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta
sejak lahir, dan orang yang berpenyakit sopak (lepra), dan aku
menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan
kepadamu yang kamu makan dan yang kamu simpan di rumahmu.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah suatu tanda (mukjizat
tentang kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu
sungguh-sungguh beriman." (QS Ali 'Imran [3]: 49)
Dalam Perjanjian Baru, Isa a.s. juga menyatakan, "Jangan
percaya padaku, jika aku tidak mengerjakan pekerjaan Bapak
..."
Demikian halnya Isa a.s. dan para nabi sebelumnya. Oleh karena
itu, ketika masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti yang
bersifat suprarasional, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk
menyampaikan kalimat-kalimat berikut:
"Katakanlah, 'Sesungguhnya bukti-bukti itu bersumber dari
Allah, sedang aku hanya pembawa peringatan yang menjelaskan.'"
(QS Al-'Ankabut [29]: 50)
Dr. Nazme Luke, seorang pendeta Mesir, berkomentar bahwa
menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta,
dan lain-lain adalah hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi
tidak berarti apa-apa jika digunakan untuk membuktikan bahwa
2+2 = 5.
Masyarakat pada masa Isa a.s. membutuhkan bukti-bukti yang
bersifat suprarasional, karena mereka belum mencapai tingkat
kedewasan yang memadai. Hal ini, tulisnya, sama dengan
membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika telah dewasa, ia
akan makan tanpa dibujuk.
Memang Nabi Muhammad Saw. tidak mengandalkan hal-hal yang
bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan
diri beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan
menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai
tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang
pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes,
Hero, Worship and the Heros in History dengan menggunakan
tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam The
Story of Civilization in the World dengan tolok ukur hasil
karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan
tolok ukur keberanian moral, Nazme Luke dalam Muhammad
Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian
ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh
dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah, dengan tolok ukur
pengaruh serta sederetan pakar lainnya.
"Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan
karakter Muhammad (Saw.), hanya mempunyai perasaan hormat saja
terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga
meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari
sang Pencipta," demikian Annie Besant menulis dalam The Life
and Teachings of Muhammad.
Dalam konteks ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4
menyatakan,
"Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."
Dalam ayat lain dinyatakan:
"Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang
sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad Saw.), dan Kami telah
(pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" (QS
Al-Nisa' [4]: 174).
Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Saw.
Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad Saw.
memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan
bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai nabi adalah
keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga
yang antara lain menyatakan bahwa:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang
agung" (QS Al-Qalam [68]: 4).
Kata "di atas" tentu mempunyai makna yang sangat dalam,
melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak
mulia
Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An'am ayat 90
menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul.
Setelah kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada
Nabi Muhammad Saw.,
"Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka
hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh."
Ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa Nabi Saw. pasti
memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti antara lain,
ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau
saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan amarahnya
dan menyabarkan diri dengan berkata,
"Semoga Allah merahmati Musa a s. Dia telah diganggu melebihi
gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar (maka aku lebih
wajar bersabar daripada Musa a s.)."
Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa
pastilah Nabi Muhammad Saw. telah meneladani sifat-sifat
terpuji para nabi sebelum beliau
Nabi Nuh a.s. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah
dalam berdakwah. Nabi Ibrahim a.s. dikenal sebagai seorang
yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan
diri kepada Allah. Nabi Daud a.s. dikenal sebagai nabi yang
amat menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap
nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s.,
adalah nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia
demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Nabi Yusuf a.s. terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam
nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a. s. diketahui
sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa
terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan, Nabi
Harun a.s. sebaliknya, adalah nabi yang penuh dengan
kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad Saw.
meneladani semua keistimewaan mereka itu.
Ada beberapa sifat Nabi Muhammad Saw. yang ditekankan oleh
Al-Quran, antara lain,
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia),
serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat
tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang
mukmin" (QS Al-Tawbah [9]: 128).
Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga
hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka
beriman (baca QS Syu'ara [26]: 3). Begitu luas rahmat dan
kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia,
binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.
Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pencinta Binatang,
Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan,
"Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap
binatang-binatang, kendarailah dan makanlah dengan baik."
"Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor
kucing yang dikurungnya."
"Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena
memberi minum seekor anjing yang kehausan."
Rahmat dan kasih sayang yang dicurahkannya sampai pula pada
benda-benda tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai,
pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan
benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang
membutuhkan uluran tangan, rahmat, kasih sayang, dan
persahabatan.
Diakui bahwa Muhammad Saw. diperintahkan Allah untuk
menegaskan bahwa,
"Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku)
diberi wahyu ..." (QS Al-Kahf [18]: 110).
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Muhammad2.html
nanti-nantikan tidak kunjung datang, hingga menurut beberapa
riwayat beliau sedemikian gelisah, sampai-sampai konon beliau
hampir saja mencelakakan dirinya. Rupanya Allah Swt. bermaksud
menjadikan beliau lebih merindukan lagi "sang kekasih dan
firman-firman-Nya" agar semakin mantap cinta beliau
kepada-Nya.
Surat Adh-Dhuha menyatakan sekelumit hal itu, sekaligus
sekilas kedudukan beliau di sisi Allah. Surat ini turun
berkenaan dengan kegelisahan Nabi Muhammad Saw. karena
ketidakhadiran Malaikat Jibril membawa wahyu setelah sekian
kali sebelumnya datang.
"Demi adh-dhuha, dan malam ketika hening. Tuhanmu tidak
meninggalkan kamu dan tidak pula membenci-(mu dan siapa pun).
Mengapa adh-dhuha -yakni "matahari ketika naik
sepenggalah"-yang dipilih berkaitan dengan wahyu-wahyu yang
diterima oleh Nabi Saw., atau apakah adh-dhuha ada kaitannya
dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?
Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi
seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak
menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan panasnya memberikan
kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan.
Di sini Allah Swt. melambangkan kehadiran wahyu selama ini
sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian
jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran
wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
Dari kedua hal yang bertolak belakang itu, Allah menafikan
dugaan atau tanggapan yang menyatakan bahwa Muhammad Saw.
telah ditinggalkan oleh Tuhannya, atau bahkan Tuhan telah
membencinya. Kehadiran malam tidak menjadikan seseorang boleh
berkata bahwa matahari tidak akan terbit lagi, karena
kenyataan sehari-hari membuktikan kekeliruan ucapan seperti
itu. Nah, ketidakhadiran wahyu beberapa saat tidak dapat
dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa wahyu tidak akan hadir
lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.
Ketidakhadiran antara lain menjadi isyarat kepada Nabi
Muhammad Saw. untuk beristirahat, karena "malam" dijadikan
Tuhan sebagai waktu "beristirahat."
Dapat juga dikatakan bahwa ketidakhadiran wahyu justru pada
saat Nabi Muhammad menanti-nantikannya, membuktikan bahwa
wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri. Walaupun keinginan Nabi
Saw. meluap-luap menantikan kehadirannya, namun jika Tuhan
tidak menghendaki, wahyu tidak akan datang. Ini membuktikan
bahwa wahyu bukan merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.
Kenabian Muhammad Saw. bukan merupakan hal yang baru bagi umat
manusia. Nabi Muhammad secara tegas diperintahkan untuk
menyatakan hal itu,
"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara
rasul-rasul. Aku tidak mengetahui yang diperbuat terhadapku,
tidak juga terhadapmu. Aku tidak lain hanya mengikuti yang
diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain seorang pemberi
peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)
Namun demikian' kenabian Muhammad Saw. berbeda dengan kenabian
utusan Tuhan yang lain. Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul
diutus untuk masyarakat dan waktu tertentu, tetapi Nabi
Muhammad Saw. diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan
tempat,
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua'" (QS
Al-A'raf [7]: 158)
Ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi
Muhammad Saw. hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada
orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah,
beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.
Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Makkah beliau
telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia.
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua.'" (QS
Al-A'raf [7]: 158).
Ayat ini turun ketika Nabi Saw. sedang berada di Makkah,
bahkan menurut sementara ulama, semua ayat Al-Quran yang
dimulai dengan panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya
turun di Makkah kecuali beberapa ayat.
Perbedaan yang lain adalah para nabi sebelum beliau selalu
mengaitkan kenabian dengan hal-hal yang bersifat
suprarasional, baik berbentuk sihir, pengetahuan gaib,
mimpi-mimpi, dan lain-lain.
Isa a.s. misalnya bersabda,
"Sesungguhnya Aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti
(mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat burung untuk kamu
dari tanah, kemudian aku meniupnya sehingga ia menjadi burung
dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta
sejak lahir, dan orang yang berpenyakit sopak (lepra), dan aku
menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan
kepadamu yang kamu makan dan yang kamu simpan di rumahmu.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah suatu tanda (mukjizat
tentang kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu
sungguh-sungguh beriman." (QS Ali 'Imran [3]: 49)
Dalam Perjanjian Baru, Isa a.s. juga menyatakan, "Jangan
percaya padaku, jika aku tidak mengerjakan pekerjaan Bapak
..."
Demikian halnya Isa a.s. dan para nabi sebelumnya. Oleh karena
itu, ketika masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti yang
bersifat suprarasional, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk
menyampaikan kalimat-kalimat berikut:
"Katakanlah, 'Sesungguhnya bukti-bukti itu bersumber dari
Allah, sedang aku hanya pembawa peringatan yang menjelaskan.'"
(QS Al-'Ankabut [29]: 50)
Dr. Nazme Luke, seorang pendeta Mesir, berkomentar bahwa
menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta,
dan lain-lain adalah hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi
tidak berarti apa-apa jika digunakan untuk membuktikan bahwa
2+2 = 5.
Masyarakat pada masa Isa a.s. membutuhkan bukti-bukti yang
bersifat suprarasional, karena mereka belum mencapai tingkat
kedewasan yang memadai. Hal ini, tulisnya, sama dengan
membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika telah dewasa, ia
akan makan tanpa dibujuk.
Memang Nabi Muhammad Saw. tidak mengandalkan hal-hal yang
bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan
diri beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan
menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai
tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang
pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes,
Hero, Worship and the Heros in History dengan menggunakan
tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam The
Story of Civilization in the World dengan tolok ukur hasil
karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan
tolok ukur keberanian moral, Nazme Luke dalam Muhammad
Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian
ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh
dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah, dengan tolok ukur
pengaruh serta sederetan pakar lainnya.
"Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan
karakter Muhammad (Saw.), hanya mempunyai perasaan hormat saja
terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga
meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari
sang Pencipta," demikian Annie Besant menulis dalam The Life
and Teachings of Muhammad.
Dalam konteks ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4
menyatakan,
"Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."
Dalam ayat lain dinyatakan:
"Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang
sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad Saw.), dan Kami telah
(pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" (QS
Al-Nisa' [4]: 174).
Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Saw.
Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad Saw.
memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan
bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai nabi adalah
keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga
yang antara lain menyatakan bahwa:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang
agung" (QS Al-Qalam [68]: 4).
Kata "di atas" tentu mempunyai makna yang sangat dalam,
melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak
mulia
Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An'am ayat 90
menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul.
Setelah kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada
Nabi Muhammad Saw.,
"Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka
hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh."
Ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa Nabi Saw. pasti
memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti antara lain,
ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau
saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan amarahnya
dan menyabarkan diri dengan berkata,
"Semoga Allah merahmati Musa a s. Dia telah diganggu melebihi
gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar (maka aku lebih
wajar bersabar daripada Musa a s.)."
Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa
pastilah Nabi Muhammad Saw. telah meneladani sifat-sifat
terpuji para nabi sebelum beliau
Nabi Nuh a.s. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah
dalam berdakwah. Nabi Ibrahim a.s. dikenal sebagai seorang
yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan
diri kepada Allah. Nabi Daud a.s. dikenal sebagai nabi yang
amat menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap
nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s.,
adalah nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia
demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Nabi Yusuf a.s. terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam
nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a. s. diketahui
sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa
terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan, Nabi
Harun a.s. sebaliknya, adalah nabi yang penuh dengan
kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad Saw.
meneladani semua keistimewaan mereka itu.
Ada beberapa sifat Nabi Muhammad Saw. yang ditekankan oleh
Al-Quran, antara lain,
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia),
serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat
tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang
mukmin" (QS Al-Tawbah [9]: 128).
Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga
hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka
beriman (baca QS Syu'ara [26]: 3). Begitu luas rahmat dan
kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia,
binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.
Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pencinta Binatang,
Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan,
"Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap
binatang-binatang, kendarailah dan makanlah dengan baik."
"Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor
kucing yang dikurungnya."
"Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena
memberi minum seekor anjing yang kehausan."
Rahmat dan kasih sayang yang dicurahkannya sampai pula pada
benda-benda tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai,
pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan
benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang
membutuhkan uluran tangan, rahmat, kasih sayang, dan
persahabatan.
Diakui bahwa Muhammad Saw. diperintahkan Allah untuk
menegaskan bahwa,
"Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku)
diberi wahyu ..." (QS Al-Kahf [18]: 110).
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Muhammad2.html
Langganan:
Komentar (Atom)